Compassion Heals

19 Apr 2013

508b7e48141b01a26f136f454fb314f2_1915
Di semua kaki langit manusia rindu mendalam akan energi-energi kesembuhanphone covers. Terutama karena di sana-sini muncul penyakit aneh-aneh, angka bunuh diri menaik, rumah sakit jiwa penuh, perceraian meningkat, konflik dan perang serupa tidak pernah turun Art Culture. Sehingga banyak yang bertanya, di mana energi-energi kesembuhan bisa Wigs for Cancer Patients Bright Hopesditemukan? Tempat lain mungkin punya aura lain. Dan di Bali selama bertahun-tahun auranya adalah aura kedamaian. Terutama karena puncak persembahyangan orang Bali bernama Parama Shanti (damai yang maha utama). Kedamaian ini kemudian menjadi lahan subur tumbuhnya belas kasih (compassion). Dan cloud computing hong kongbelas kasih inilah yang menyembuhkan.

Awalnya

Agak sulit membayangkan ada perjalanan spiritual yang mendalam bila pikiran masih dicengkram dan diguncang dualitas. Tuhan dimusuhkan dengan setan, Buddha berkelahi dengan mara, yang suci menjadi lawan dari yang kotor. Disebut sulit, karena semakin kencang dualitas mengguncang, semakin jauh seseorang dari rumah kedamaian. Meminjam pendapat seorang sahabat spiritual: mind tormented by partiality will never experience ultimate peace wine education. Batin mana pun yang diguncang oleh dualitas, akan teramat sulit menemukan kedamaian maha utama.

Bagi yang sudah menggali dalam ke dalam tahu, dualitas diperlukan hanya di awal perjalanan. Ia serupa kendaraan. Tatkala melewati jalan tol, memerlukan mobil. Saat menyeberangi danau diperlukan perahu. Ketika mendaki tebing memerlukan tali. Akan tetapi sesampai di puncak gunung, seluruh alat dan kendaraan mesti ditinggalkan di belakang. Hanya orang-orang kurang waras saja yang menggendong mobil dan perahu sesampai di puncak gunung.

Dalam perspektif ini, rwa bhineda (dua hal yang berbeda sekaligus saling menerangi) berfungsi serupa peta di awal perjalanan. Dalam bahasa orang tua ke puteranya: rwa bhinedane tampi!. Dualitas (baik-buruk, benar-salah, suci-kotor, dll) jangan lupa dipeluk, diterima, disapa dengan senyuman. Sifat kehidupan yang holistik mengajarkan, dualitas di permukaan sepertinya bertentangan. Tapi di kedalaman yang dalam, keduanya saling membutuhkan. Melenyapkan salah satunya (contoh melenyapkan keburukan), sama dengan melenyapkan semuanya termasuk melenyapkan kebaikan. Dalam bahasa meditasi, kita semua adalah campuran unik antara rumput Jepang (baca: sifat-sifat baik) dengan rumput liar (sifat buruk). Serupa rumput di taman, kendati rumput liarnya terus dicabut, tetap saja ia tumbuh dan tumbuh lagi. Manusia serupa, semua mau menjadi baik. Tapi kekurangan tetap hadir sebagaimana rumput liar. Taman indah sebagai lambang jiwa yang sembuh dan utuh senantiasa memeluk lembut baik kelebihan maupun kekurangan investment fund.

Itu sebabnya, dalam meditasi dianjurkan untuk menyapa serta tersenyum pada apa saja yang ditemukan dalam keseharian. Bahagia senyum, sedih juga senyum. Kemudian mengenali bentuk-bentuk pikiran, perasaan, persepsi secara mendalam. Lebih mudah menemukan kesembuhan dan kedamaian bila dualitas disapa sebagaimana kita menyapa seseorang di pesta. Ujung-ujungnya, dualitas berhenti menjadi orang asing yang menakutkan, mulai berfungsi sebagai pemandu jalan dalam perjalanan panjang kehidupan.

Jalan Setapak

Dengan dipandu pemandu bernama rwa bhineda (dualitas), maka langkah-langkah bakti dalam keseharian menjadi ringan menawan. Ringan karena bakti tidak disertai beban target bahwa setelah menjalankan bakti pasti jadi Bupati, jika tidak melaksanakan bakti pasti sakit hati. Bakti adalah bakti, ia sudah indah hanya dengan dilaksanakan. Disebut indah, karena bakti yang melampaui rwa bhineda bisa membuat semua arah indah. Dalam bahasa Jetsun Milarepa: semua arah berisi buku suci.

Di Bali dikenal luan-teben (hulu-hilir). Tetapi tanpa hilir, hulu tidak ada. Tanpa orang jahat, orang baik tidak kelihatan.Tanpa orang kasar, orang sabar jadi hambar. Dengan sudut pandang seperti ini, maka bakti jadi selalu indah, indah dan indah. Sebagai hasilnya, tidak perlu marah berlebihan kepada penjahat, tidak perlu benci berlebihan kepada pencuri. Dan pada saat yang sama, tidak perlu memaksa kalau bakti harus hening, harus tertib, harus diam.

Serupa alam, kalau saatnya petir menggelegar, maka ia akan menggelegar. Bila waktunya langit biru memancarkan cahaya matahari sempurna, maka terang benderanglah alam. Makanya, meditasi disebutkan sebagai undangan untuk pulang ke rumah sejati. Pengertian pulang amatlah sederhana, tidak menggenggam hal-hal positif, tidak menendang hal-hal negatif. Inilah bakti yang sesungguhnya. Tatkala batin bisa berbakti kepada apa saja yang terjadi di saat ini. Alam dan kehidupan serupa tubuh manusia. Manusia kebanyakan memang lebih menyukai mulut dibandingkan maaf dubur. Tapi keduanya punya fungsinya masing-masing. Mulut untuk minum dan makan. Dubur diperlukan saat buang air besar. Tanpa dubur, tubuh manusia mana pun akan kehilangan keseimbangan.

Buahnya

Dengan bekal awal berupa rwa bhinedha, serta memperlakukan apa saja sebagai bakti, maka mudah bagi kita untuk menyentuh (tidak sekadar mengucapkan) kedamaian. Kata shanti (damai) yang diucapkan jutaan kali tidak lagi menjadi seperti sebuah lirik lagu blowing in the wind (terbang percuma bersama angin), tetapi bergetar menyentuh relung-relung batin ini.

Tatkala digetarkan oleh vibrasi damai kata shanti, awalnya memang dipeluk keheningan (nyepi lan ngewindu), lama-lama ia melahirkan kerinduan untuk menyayangi semua yang belum pernah mengalaminya (urip lan nguripi). Iinilah yang disebut compassion heals. Belas kasih itu menyembuhkan. Rangkaian berfikirnya, dualitas (rwa bhineda) dilampaui dengan bakti. Hasilnya kehidupan yang penuh kedamaian. Kedamaian ini menjadi lahan subur bagi lahirnya bibit-bibit belas kasih. Dan belas kasih inilah yang menyembuhkan.

Namun sebagaimana cahaya matahari yang hanya bisa menyinari mereka yang membuka jendela dan pintunya, cahaya-cahaya kedamaian hanya bisa memasuki mereka yang sujud dan bakti kepada Guru. Di Tantra disebut Guru Yoga Guru Puja. Ada memang orang yang ragu berlebihan kemudian mengkaji calon Guru sebaik-baiknya. Maklum, ini zaman yang penuh dengan kepalsuan. Namun, bagi mereka yang berkah spiritualnya sudah berlimpah, berkali-kali Guru sudah memperlihatkan diri melalui mimpi, samadhi, atau malah sudah menampakkan diri secara nyata (skala) dengan mengenakan tubuh manusia yang siap untuk diajak berdialog. *)

Di antara mereka yang disentuh Guru, ada yang bertanya polos: apa ciri murid yang sudah sampai di puncak gunung kedamaian?. Kesembuhan adalah langkah permulaan. Kedamaian adalah tangga berikutnya. Keheningan yang dipeluk kasih sayang, itulah rumah sesungguhnya (home).

Ahli neorosains Fransisco Varela menemukan istilah the biology of compassion. Kasih sayang tidak saja berwajah psikologi juga berwajah biologi yang menyembuhkan. Ini mirip dengan hasil penelitian yang menyimpulkan, orang yang memiliki binatang peliharaan yang disayangi di rumah, memiliki resiko terkena serangan jantung lebih kecil dibandingkan dengan mereka yang tidak memilikinya. Bunda Teresa yang berumur panjang padahal setiap hari merawat orang-orang berpenyakit kusta, adalah contoh belas kasih yang membuat kekebalan tubuh jadi prima. Dalam bahasa Daniel Goleman dari Universitas Harvard, kasih sayang itu menyembuhkan. Terutama karena membuat kekebalan tubuh membaik, yang pada akhirnya membukakan pintu kesembuhan. Dokter senior dari Universitas Yale bernama Bernie Siegel memberi judul karyanya Peace, Love and Healing. Dalam karya ini terang sekali terlihat, kedamaian dan belas kasih itu menyembuhkan.

Dengan model kesembuhan seperti ini, mudah sekali bagi pintu kedamaian mendalam terbuka. Kedamaian di jalan ini, bukanlah musuhnya kekacauan. Kedamaian adalah kedamaian. Ia bukan musuhnya siapa-siapa. Ia hanya butuh istirahat pada apa saja yang terjadi di saat ini. Indahnya, setelah istirahat bukannya cuek, tidak peduli, tetapi melahirkan kerinduan untuk selalu melaksanakan tugas-tugas pelayanan. Dan pelayanan terakhir inilah yang menyembuhkan ke dalam sekaligus ke luar.

Untuk mengajak sebanyak mungkin sahabat merenung mendalam akan kasih sayang, maka layak disyukuri kalau kelompok spiritual

Kisah YA Asanga menemukan Gurunya Buddha Maitriya adalah salah satu kisah inspiratif. Didorong kerinduan berjumpa Guru, Asanga mencari Gurunya di hutan, di gua dan tempat sepi lainnya dan tidak ketemu. Bosan di tempat sepi bermeditasi, akhirnya dilaksanakan ajaran Gurunya dalam keseharian dengan penuh belas kasih pada semua mahluk. Sampai di suatu hari ia berjumpa anjing kurus, kotor, korengan yang membangkitkan belas kasihnya hingga dirawat. Demikian sempurnanya belas kasih Asangha sampai mengangkat kuman di kulit anjing ini menggunakan lidahnya sendiri. Begitu selesai, anjing ini berubah menjadi Buddha Maitria. Tentu saja Asanga terkejut sambil bertanya: kenapa Guru baru muncul sekarang?. Dengan lembut Buddha Maitria menjawab, sejak awal yang tidak berawal Guru selalu menemanimu. Tapi muridlah yang belum siap melihat Gurunya.

Pelajarannya sederhana, bila seseorang masih kotor Guru bahkan bisa terlihat seperti anjing kurus dan penyakitan. Kapan saja batin murid mulai bersih, jernih, penuh belas kasih, di sana seorang murid bisa melihat wajah asli Guru.

Dalam salah satu kelas meditasi yang dihadiri lebih dari seratus orang secara lintas agama dari berbagai negara di tahun 2012 di Bali Utara, kami pernah berdoa bersama-sama melantumkan doa Nammo Avalokiteshvara dengan sejuk, lembut, teduh. Tanpa diundang sejumlah burung kutilang berputar-putar di atas genta (stupa) tempat kami berdoa. Hampir semua peserta merasakan vibrasi yang sejuk dan lembut. Tapi salah satu peserta yang tinggal di Lampung namun asli Bali menangis tersedu-sedu sedih sekali. Tatkala dielus-elus lembut punggungnya, ia bergumam sambil menangis: burung-burung Kutilang itu apa ya Guru?. Ini contoh lain tentang perjumpaan dengan Guru. Murid dari Lampung ini, matanya memang melihat burung Kutilang, tapi hatinya merasakan kehadiran Guru yang ia rindukan berkehidupan-kehidupan sehingga menangis tanpa bisa ditahan.


TAGS


-

Author

Follow Me